SDIT 8 Oktober 2026 3 menit baca

Bacaan Ta’awudz: 2 Bentuk Lafaz, Arti, dan Dalilnya

Bacaan Ta'awudz

Sebelum membaca Al-Qur’an, kita diperintahkan membaca ta’awudz. Ternyata ada dua bentuk bacaannya.

Bacaan ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an ada dua bentuk: bentuk yang lebih panjang (أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ) dan bentuk yang lebih singkat (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ). Keduanya dibaca untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Berikut penjelasan lengkap lafaz, arti, dan dalil masing-masing.

Apa Itu Ta’awudz dan Kapan Dibaca?

Ta’awudz adalah bacaan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Bacaan ini dibaca ketika hendak memulai membaca Al-Qur’an, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Perintahnya terdapat dalam firman Allah:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Ayat ini bersifat umum, sehingga berlaku untuk membaca Al-Qur’an di dalam maupun di luar shalat. (Lihat Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 101).

Bentuk Pertama: Ta’awudz Lafaz Panjang

Lafaz Arab:

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Transliterasi: A’ūdzu billāhis-samī’il-‘alīmi minasy-syaithānir-rajīmi min hamzihi wa nafkhihi wa nafatsihi.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela atau syair atau sihirnya.”

Dalil: HR. Abu Daud, no. 775 dan Tirmidzi, no. 242. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Adapun pengertian “min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih“, dapat dilihat dalam Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 104.

Bentuk Kedua: Ta’awudz Lafaz Singkat

Lafaz Arab:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Transliterasi: A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Bentuk singkat ini boleh dipakai untuk mencukupkan ta’awudz. Dasarnya adalah keumuman ayat yang memerintahkan membaca ta’awudz ketika memulai membaca Al-Qur’an, baik di dalam maupun di luar shalat, yaitu QS. An-Nahl ayat 98 di atas. (Lihat Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 101).

Perbandingan Dua Bentuk Ta’awudz

Bentuk PertamaBentuk Kedua
LafazPanjangSingkat
Memuat sifat Allah As-Sami’ Al-‘AlimYaTidak
Memuat permohonan perlindungan dari hamz, nafkh, dan naftsYaTidak
DasarHR. Abu Daud no. 775 dan Tirmidzi no. 242Keumuman QS. An-Nahl: 98

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa bacaan ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an?

Bacaan ta’awudz ada dua bentuk. Bentuk singkatnya adalah A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm, artinya “aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”. Bentuk panjangnya menambahkan sifat Allah As-Sami’ Al-‘Alim serta permohonan perlindungan dari hamz, nafkh, dan nafts.

Apakah ta’awudz boleh dibaca singkat saja?

Boleh. Ta’awudz dapat dicukupkan dengan lafaz A’ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm, berdasarkan keumuman QS. An-Nahl ayat 98 yang memerintahkan meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk ketika membaca Al-Qur’an.

Apa arti ta’awudz yang panjang?

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela atau syair atau sihirnya.”

Apa dalil bacaan ta’awudz?

Dalil perintahnya adalah QS. An-Nahl ayat 98. Untuk lafaz yang panjang, dalilnya adalah hadits riwayat Abu Daud no. 775 dan Tirmidzi no. 242, yang sanadnya dinilai hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir.

Apakah ta’awudz dibaca di dalam shalat dan di luar shalat?

Ya. Perintah ta’awudz dalam QS. An-Nahl ayat 98 bersifat umum, sehingga berlaku ketika membaca Al-Qur’an di dalam maupun di luar shalat.

Penutup

Sebelum membaca Al-Qur’an, mulailah dengan ta’awudz, baik dengan lafaz yang singkat maupun lafaz yang lebih lengkap sebagaimana dalil di atas. Semoga bermanfaat.

Rujukan

  • QS. An-Nahl: 98
  • HR. Abu Daud, no. 775
  • HR. Tirmidzi, no. 242
  • Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 101 dan 104

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *